Bisnis.com, JAKARTA – Perekonomian China disinyalir memulai 2018 untuk menghadapi 'critical battles'. Pertumbuhan negeri tirai bambu diprediksikan akan melambat menjadi 6,5% tahun ini, laju terlamban sejak 1990.
Perjuangan untuk mengatasi utang dalam negeri, kemiskinan, dan polusi menimbulkan risiko utama bagi negara berkekuatan ekonomi nomor dua dunia tersebut, bahkan sebelum tingkat suku bunga yang lebih tinggi dan ancaman perang dagang dari Amerika Serikat (AS) diperhitungkan.
Meski perekonomian China dimulai dari posisi yang kuat, dengan pertumbuhan full yearpada 2017 yang siap untuk mencatatkan akselerasi pertamanya sejak 2010, ekspansi tersebut diperkirakan akan melambat pada 2018.
Oleh karenanya, pemerintahan Presiden Xi Jinping mengisyaratkan optimisme mengenai kinerja ekonomi yang cenderung moderat, jika kemajuan pada risiko utama, yakni kelemahan di bidang finansial, dapat dilakukan.
“Ketidakseimbangan ekonomi yang signifikan terus menciptakan risiko penurunan terhadap prospek tahun 2018,” kata Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia Pasifik di IHS Markit di Singapura, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (3/1/2018).
“Risiko terhadap ekonomi China akan tetap berada di antara risiko utama terhadap prospek pertumbuhan global di tahun 2018, dengan kawasan Asia Pasifik khususnya yang rentan terhadap gelombang kejutan akibat perlambatan,” tuturnya.
Gelombang tersebut belum terwujud, bahkan kegiatan ekonomi terus berlanjut. Indeks PMI manufaktur resmi di posisi 51,6 pada bulan Desember, yang menunjukkan kondisi perbaikan. Pesanan manufaktur ekspor baru juga naik ke level tertinggi enam bulan, menurut sub indeks.
Indeks PMI manufaktur Caixin, yang lebih mencerminkan perusahaan-perusahaan berskala lebih kecil, juga menunjukkan momentum yang kuat di posisi 51,5 pada bulan Desember, sekaligus melampaui perkiraan.
Namun, menurut laporan oleh Freya Beamish, kepala ekonom Asia di Pantheon Macroeconomics Ltd di Newcastle, Inggris, angka-angka itu kemungkinan melebih-lebihkan momentum, terutama dalam hal konstruksi. “Gambaran tentang laba tampaknya memburuk saat kenaikan harga input terus lambat,” jelas Beamish.
Berikut adalah beberapa area yang memiliki potensi untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi atau mendorong terjadinya pergolakan pasar:
Risiko Finansial
Partai Komunis China baru-baru ini memperbarui komitmennya untuk mencegah dan mengendalikan risiko finansial, menyebutnya sebagai tantangan penting untuk tiga tahun ke depan. Saat sistem keuangan lebih terbuka bagi perusahaan asing, rasio utang terhadap PDB yang mengarah menuju lebih dari 320% pada tahun 2022 merupakan bahaya utama.
“Bahkan propagandanya sendiri mengakui bahwa ini adalah masalah serius yang pemerintah Beijing tidak perkirakan akan ada solusi dalam hal apa pun dalam kurang dari tiga tahun,” kata Pauline Loong, managing director firma riset Asia-Analytica di Hong Kong.
“Ketidakstabilan finansial adalah masalah utama. Selesaikan itu dan tekanan pada arus keluar modal, komplikasi dari pengurangan utang, serta kelemahan di bank-bank kecil akan berkurang,” tambah Loong.
Perlambatan Konstruksi
Pengetatan peraturan finansial dan lingkungan untuk membantu membatasi utang dapat menyebabkan getaran pada 2018 yang memperlambat pembangunan perumahan dan infrastruktur, menurut Frederic Neumann, co-head riset ekonomi Asia di HSBC Holdings Plc. di Hong Kong.
“Perlambatan yang lebih tajam daripada perkiraan dalam konstruksi dapat membebani aktivitas yang lebih luas, dengan sektor-sektor baru yang belum cukup kuat untuk memberi sokongan yang memadai,” kata Neumann.
Perseteruan Perdagangan
“Pidato strategi keamanan nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini menjadi 'persiapan' untuk beralih ke proteksionisme,” kata David Loevinger, mantan pakar urusan China di Departemen Keuangan AS.
“Mengingat populisme nasionalistik juga sama menariknya di China, politisi China akan merasa terdorong untuk melakukan hal yang sama,” lanjut Loevinger, yang saat ini bertindak sebagai analis di TCW Group Inc.
The Fed dan Pajak
Jika bank sentral AS The Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih dari yang diperkirakan pasar dan pemangkasan pajak diterapkan, dolar mungkin akan terangkat sekaligus menempatkan yuan dan arus keluar modal di bawah tekanan lagi, menurut George Magnus, seorang associate di Oxford University's China Center.
“Jika The Fed memulai penaikan dan dolar terus naik, itu akan menyebabkan masalah besar,” kata Christopher Balding, associate professor di HSBC School of Business, Universitas Peking di Shenzhen.
Korea Utara
“Jika ketegangan antara AS dan Korea Utara meningkat menjadi konfrontasi yang lebih signifikan, akan ada konsekuensi mendalam dan luas, tidak hanya untuk ekonomi China tapi juga seluruh wilayah Asia Pasifik,” kata Zhu Ning, wakil direktur National Institute of Financial Research di Universitas Tsinghua di Beijing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar